Minggu, 31 Desember 2017

Aku Senang Bersedih

Assalamu'alaikum, 하이!

Sama halnya dengan dunia menggambar, aku masih amatiran dalam kepenulisan. Beberapa cerpen yang kutulis menjadi kontributor antologi buku hasil lomba cerpen yang aku ikuti. Karena tempo hari adalah hari ibu, aku mau post cerpen tentang ibu. Alhamdulillah ini cerpen yang berhasil menjadi naskah terbaik. Untuk kali pertama, sampai sekarang. Huhu.
🐼
(1/3)

Aku Senang Bersedih

Awal bulan Maret pohon sakura mulai berbunga, dan puncaknya sekitar pertengahan Maret. Sayangnya, kami datang pada akhir bulan Agustus lalu dan sekarang sudah memasuki musim gugur. Namun dengan udara yang cukup hangat pada siang hari dan mulai dingin ketika hari beranjak petang, cukup bersahabat dengan orang Indonesia seperti kami. Kami memutuskan untuk berjalan kaki dari apartemen menuju Hannam-dong Street, di kawasan Yonsang-gu.

Purwani, nama ibuku. Wanita keturunan Jawa yang lembut hatinya. Kata 'Wani' dalam sepenggal namanya berarti berani. Kakekku, ayah dari ibu yang memberikan nama untuknya. Aku memanggilnya 'Mamake', sebutan ibu dari anak suku Jawa berbahasa 'ngapak' yang banyak tinggal di beberapa daerah Jawa Tengah.

Ada banyak alur hidup mamake yang kudengar dari lisannya sendiri. Kutulis ceritanya di lembar-lembar kertas. Dengan sedikit kiasan kuselipkan di dalamnya. Di umur yang sama denganku saat duduk di bangku SMA kelas 2, mamake sudah menikah dan satu tahun kemudian kakak pertamaku Rahmat, lahir. Ia menikah dengan, bapake. Tapi bukan berarti mamake sekolah sampai SMA sepertiku. Ia harus keluar dari sekolah saat baru kelas 2 SD. Meski begitu, mamake pandai berhitung terutama uang, dan agak lambat membaca. Namun setidaknya mamake tidak buta huruf. Aku lega.

Bapake adalah laki-laki dari desa tetangga. Bapake seorang pekerja keras sejak ia belia. Dari kecil orang tuanya tak membiayai sekolah, mungkin menurut mereka sekolah bukan suatu kebutuhan yang penting, meski sebenarnya mereka punya cukup uang. Tapi bapake tetap sekolah dengan hasil kerjanya di pasar memikul berbagai barang, sayur, buah dan apa-apa yang dijual orang di pasar. Kuakui bapake orang yang kuat, hingga kusadari kekuatannya adalah petaka. Sekolahnya tak bertahan lama, meski tak lulus setidaknya bapake sampai SMP.

"Sebelum menikah, di masa pacaran biasa kami menonton ebleg---kuda lumping---, atau bioskop di samping stasiun. Setiap hari ada saja kiriman makanan dari bapakmu. Paling romantis jaman dulu kirim salam lewat radio. Salam buat mamake," kisah pacaran mamake yang membuatku geli. Aku saja yang anak jaman sekarang tidak pernah pacaran, aku benar-benar kalah dengan mamake.

Bapake memang banyak uang, mamake yang semenjak keluar sekolah sampai remaja susah payah kerja cari uang merasa bapake adalah yang tepat untuknya. Terlebih nenek sangat menyetujui hubungan mereka. Nenek lebih dulu mengenal bapake.

"Orang mengira mamake adalah wanita paling bahagia di dunia yang menikah dengan bapakmu. Tapi setelah menikah, sifatnya berubah. Ibarat orang yang tidur telentang langsung berubah tengkurap," kata ibu sambil memperagakan perubahan bapake dengan telapak tangannya. Ternyata judi, minuman keras, dan selingkuh adalah teman karib bapake. Aku diam.

Pada usia pernikahan mereka yang baru seumur tunas, bapake gila perempuan lain. "Kalau mamake menentang kemauannya, cerai selalu menjadi panahnya untuk mengancam," tutur mamake mengorek kisah awal penderitaannya.

Kakak pertama, kang Rahmat saat itu belum tahu apa pun. Umurnya yang merupakan penghitung usia pernikahan mamake, saat itu masih sibuk dengan lidi sebagai mainannya. "Ngunggggg, mulutnya menirukan bunyi gergaji mesin untuk menebang pohon kelapa. Hanya itu mainannya," sambungan cerita mamake. Matanya lembut menatap masa lalu.

Bersambung~😂
🐼

Wassalamu'alaikum, 안녕~♥ 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar