Assalamu'alaikum, 좋은 밤이예요!
Malam yang dingin ini, ijinkan aku curhat. Ini tentang kehidupanku, tentang aku dan mereka. Tiga pria berjas hitam dengan size tubuh yang beragam.
Jadi, suatu hari setelah berkunjung ke puskesmas untuk cek rutin (ngasih dahak/?, konsul, ambil obat--aku berharap gak lupa untuk cerita dunia pesakitanku nantinya) aku memutuskan untuk ke warnet yang jaraknya masih tergolong dekat. Hanya saja sudah berbeda kelurahan dengan puskesmas, hihi.
Tahukah kamu? Di masa sekarang ini, warnet jumlahnya sudah bisa dihitung jari, sedikit, tidak seperti dulu. Kuprediksi beberapa tahun ke depan, warnet sudah punah!
Namun dibalik itu mungkin karena telah banyak manusia yang beralih ke smartphone atau laptop dan sudah mengakses Internet sendiri, sudah banyak yang mampu secara finansial untuk memenuhi warnetan/? di rumah masing-masing. Alhamdulillah, atas rizki dari Allah, dan semoga warnet yang mulai sepi mendapat rizki dari jalan yang lain. Aamiin
Di menit awal masih normal, aku mengakses video di youtube. Nonton macem-macem, salah satunya Gitasav, youtuber inspiratif Indonesia, dan tentu saja KPOP, whooo~. Sembari sesekali mataku kuarahkan ke sekeliling bilik. ukuran 1 x 1 meter itu, 'earphonenya udah. ditemuin orang kali ya?' gumamku dalam hati saat tak menemukan earphoneku yang tertinggal di sini beberapa hari yang lalu.
Layar handphoneku menyala, sebuah panggilan dari sebaris nomor bertuliskan 'Pangkalan Bun' di bawahnya. Niat hati tak ingin mengangkat, aku orang yang paling malas mengangkat telepon nomor asing. Hmm, nomor kantor, "Swiss Belinn Hotel!"
"..."
"Selamat Pagi, iya saya Ica Delima"
"..."
"Baik, besok saya akan datang."
"..."
"Selamat Pagi"
Tiba-tiba semuanya tidak terasa normal lagi. Aku berjongkok, mencerna isi telepon barusan. Yeay, Alhamdulillah seminggu berlalu, akhirnya aku mendapat panggilan interview Pekerjaan!
Suara Gitasav ditelingaku tak lagi terproses, hilang begitu saja. Aku masih takajut sida (terkejut guys-read)! Kukira surat lamaran yang kutulis penuh cinta itu hanya tertumpuk berkas tak berguna. Perutku pun ikut bergemuruh. Perasaan senang yang sangat aneh ini benar-benar aneh.
Kembalinya kesadaranku membuatku merasakan perasaan yang lain, perutku mulas! Ini efek kelanjutan dari gemuruh tadi ternyata. Aku harus cepat-cepat pulang.
---
Malam sebelum interview, aku mengulang kembali pelajaran SMK kejuruanku, Teknik Distribusi Tenaga Listrik. Di lamaran pekerjaan ini aku mencantumkan posisi Electrical Engineering, meski pada kenyataannya aku sudah banyak lupa tentang kelistrikan. Tak apa, aku hanya perlu refresh ingatan. Klik.
Sesuai intruksi, pukul 9.15 aku sudah berada di depan gerbang masuk karyawan hotel. Kulihat sudah ada 2 orang yang datang, satu perempuan dan satunya bukan perempuan, ya laki-laki maksudku. Kemudian aku bergabung dengan mereka, duduk di bangku kayu panjang sambil menonton mas berpakaian wearpack tengah me-las besi. Aku mengulurkan tangan, mengajak berkenalan, menyebut namaku terlebih dahulu kemudian bertanya namanya. Meski aku manusia Introvert, berkepribadian INTJ (like Gitasav) kurasa disituasi ini lebih baik aku lebih dahulu yang mengajak berkenalan, soalnya dia terlihat lebih tua dariku. Haha.
Namanya Susi, lulusan Pendidikan Bahasa Inggris dari salah satu PT Palangka Raya. Nah benar kan dugaanku. Pengalamanku, di kelas maupun tempat kerja yang dulu, aku selalu jadi termuda. Maknae, yes.
Beberapa menit kemudian seorang mba HRD yang menelepon kemarin, memandu kami untuk memasuki ruangan tes tertulis.
Lewat pintu kaca yang sudah kusam, kami memasuki bangunan belakang hotel.
Langkah kaki kami melewati dapur hotel yang tak sempat ku-scan dengan mataku, lalu kami menaiki tanjakan yang bukan berbentuk tangga, datar namun miring, pastilah supaya bisa mudah dilewati troli, pikirku sok tahu.
Setelah berbelok kiri dan melewati dua pintu pemisah ruangan yang berbeda, akhirnya kami sampai di ruang aula hotel. Mba HRD membagi form tes tertulis kepada kami yang telah duduk berjajar di satu meja yang panjang.
Dimenit berikutnya masing-masing sibuk mengisi form, isinya tentang biodata dan beberapa soal terkait pekerjaan, tak jauh beda seperti tes pekerjaanku yang dulu. Hanya saja yang dulu lebih kompleks ada tes kepribadian segala, dimana aku memilih actionku di berbagai situasi sesuai empat pilihan yang ada dengan memberi nilai dalam kotak di samping masing-masing pernyataan. Nilainya 4,3,2,1. Angka itu menunjukkan kesesuaian jawaban kita, makin besar angka maka semakin sesuai dengan action yang akan kita lakukan.
Secara berkala peserta interview bertambah memasuki aula ini, ternyata banyak juga yang datang. Total yang kutahu ada 8 orang sudah.
Meski kaget aku maklum dengan suhu ruangan, hotel pastilah dingin, karena pasti ada AC. Kulihat AC yang digunakan adalah AC jenis Cassette yang terpasang di langit-langit atau plafon, kelebihannya suhu ruangan lebih mudah diatur makanya dipilih untuk ruangan rapat atau perkantoran. Namun kekurangannya adalah instalasinya yang cenderung lebih rumit. Ah, aku jadi ingat penjelasan pak Gunawan tentang AC sewaktu magang dulu.
Aku orang pertama yang menyelesaikan tes tertulis sekaligus orang kedua yang melakukan tes wawancara. Laki-laki yang kusebut bukan perempuan diawal tadi yang lebih dulu wawancara. Ternyata dia hari ini wawancara sesi kedua, so tidak melakukan tes tertulis lagi seperti kami.
Knock knock!
Tak ada sahutan, tanganku membuka pintu setinggi rumahku. Tak ada orang rupanya. Akhirnya aku kembali ke kursi menunggu pewawancara yang terdiri dari tiga orang itu.
Beberapa menit menunggu, akhirnya mereka kembali ke ruangan. Aku membuntuti dari belakang.
Brrrr.... Udara dari dalam berhembus seperti ketika pintu kulkas bagian freezer yang kubuka. Harap bertahan Ica!
Mengambil tempat duduk di kursi yang kutebak digunakan laki-laki tadi, terlihat dari posisinya yang berbeda dari kursi lainnya. Aku tepat berhadapan dengan pria kurus berkacamata di tengah dua pria gemuk tinggi besar yang juga berjas hitam.
"Silahkan perkenalkan diri menggunakan bahasa Inggris!"
Bekulah aku! Kenapa tidak bahasa Korea saja seperti yang kutulis diprofil, sebagai bahasa asing yang dikuasai dengan tingkat 'kurang'? Karena meski sama-sama belum menguasai, aku lebih suka bahasa Korea. Bagaimana tidak? Sepuluh tahun belajar English, tetap saja kemampuanku begini saja. Dendam masa kecilku pada English masih hidup, tapi tetap menghantui. Salahku sendiri sih sebenarnya, kenapa masih benci.
Ah sudahlah, sebisaku saja. Beruntungnya aku masih ingat kalimat perkenalan kelas satu SMP dulu.
Good Morning, everybody.
Let me introduce my self.
My name is Ica,
...
---
Tak tahu persis berapa lama aku berada di dalam. Ditanyai ini itu. Menurutku lebih asik wawancara pekerjaanku yang dulu, santai dan pertanyaan banyak diantaranya yang jauh dari pekerjaan (Next post insyaallah aku akan cerita, entah kapan ya). Kali ini formal, ujung-ujung jariku terasa lebih dingin jadinya. Grogi dan beku.
Pasti ada saja pertanyaan menjebak, tapi itu bukan hal yang perlu kupikirkan. Kurasa karena riwayat penyakitku, mereka ragu untuk menerimaku, meski keputusan diterima atau ditolak belum final saat ini. Wajah dan nada bicara mereka berubah. Aku bisa merasakannya.
Seminggu sudah berlalu dan aku masih belum menerima telepon lagi. Jika lebih dari dua minggu tetap sama, berarti perasaanku benar.
This is ending part in this post. Aku harus ingat, lebih dari seminggu yang lalu hari dimana aku belum mendapat panggilan wawancara, saat itu aku tak banyak berharap. Aku sudah berkali-kali kecewa karena sebuah harapan kepada manusia. Memang mereka pewawancara yang andil dengan hasilku, tapi biarlah Allah yang menentukan.
Termasuk berharap pada diriku sendiri, aku tak ingin. Bukan meremehkan diri atau percaya bahwa aku tak mampu, bukan. Kupikir yang terpenting adalah aku dan diriku telah mengusahakan dan telah berusaha yang terbaik. At Last, tetap berdoa.
Karena kepastian di dunia ini adalah ketidakpastian, maka kupikir ini yang harus kulakukan.
Aku bukan ahli rasa dan perasaan. Tapi, caraku untuk tak begitu terpuruk karena suatu perasaan atau kegagalan adalah mematikan rasa. Tak berfokus pada satu hal yang bisa membuatku berdiam diri di satu tempat. Kenyataannya, banyak hal yang harus kulakukan selain menunggu jawaban penuh rasa ini itu yang tidak mengenakan di hati.
Tak semua rasa harus dimatikan, pilihlah yang perlu. Yang membuatmu terpuruk dan mendatangkan hal buruk tentunya. Seperti..., perasaan ke mantan, mungkin. Ahah.
---
Wassalamu'alaikum, 안녕~ ♥
Malam yang dingin ini, ijinkan aku curhat. Ini tentang kehidupanku, tentang aku dan mereka. Tiga pria berjas hitam dengan size tubuh yang beragam.
Jadi, suatu hari setelah berkunjung ke puskesmas untuk cek rutin (ngasih dahak/?, konsul, ambil obat--aku berharap gak lupa untuk cerita dunia pesakitanku nantinya) aku memutuskan untuk ke warnet yang jaraknya masih tergolong dekat. Hanya saja sudah berbeda kelurahan dengan puskesmas, hihi.
Tahukah kamu? Di masa sekarang ini, warnet jumlahnya sudah bisa dihitung jari, sedikit, tidak seperti dulu. Kuprediksi beberapa tahun ke depan, warnet sudah punah!
Namun dibalik itu mungkin karena telah banyak manusia yang beralih ke smartphone atau laptop dan sudah mengakses Internet sendiri, sudah banyak yang mampu secara finansial untuk memenuhi warnetan/? di rumah masing-masing. Alhamdulillah, atas rizki dari Allah, dan semoga warnet yang mulai sepi mendapat rizki dari jalan yang lain. Aamiin
Di menit awal masih normal, aku mengakses video di youtube. Nonton macem-macem, salah satunya Gitasav, youtuber inspiratif Indonesia, dan tentu saja KPOP, whooo~. Sembari sesekali mataku kuarahkan ke sekeliling bilik. ukuran 1 x 1 meter itu, 'earphonenya udah. ditemuin orang kali ya?' gumamku dalam hati saat tak menemukan earphoneku yang tertinggal di sini beberapa hari yang lalu.
Layar handphoneku menyala, sebuah panggilan dari sebaris nomor bertuliskan 'Pangkalan Bun' di bawahnya. Niat hati tak ingin mengangkat, aku orang yang paling malas mengangkat telepon nomor asing. Hmm, nomor kantor, "Swiss Belinn Hotel!"
"..."
"Selamat Pagi, iya saya Ica Delima"
"..."
"Baik, besok saya akan datang."
"..."
"Selamat Pagi"
Tiba-tiba semuanya tidak terasa normal lagi. Aku berjongkok, mencerna isi telepon barusan. Yeay, Alhamdulillah seminggu berlalu, akhirnya aku mendapat panggilan interview Pekerjaan!
Suara Gitasav ditelingaku tak lagi terproses, hilang begitu saja. Aku masih takajut sida (terkejut guys-read)! Kukira surat lamaran yang kutulis penuh cinta itu hanya tertumpuk berkas tak berguna. Perutku pun ikut bergemuruh. Perasaan senang yang sangat aneh ini benar-benar aneh.
Kembalinya kesadaranku membuatku merasakan perasaan yang lain, perutku mulas! Ini efek kelanjutan dari gemuruh tadi ternyata. Aku harus cepat-cepat pulang.
---
Malam sebelum interview, aku mengulang kembali pelajaran SMK kejuruanku, Teknik Distribusi Tenaga Listrik. Di lamaran pekerjaan ini aku mencantumkan posisi Electrical Engineering, meski pada kenyataannya aku sudah banyak lupa tentang kelistrikan. Tak apa, aku hanya perlu refresh ingatan. Klik.
Sesuai intruksi, pukul 9.15 aku sudah berada di depan gerbang masuk karyawan hotel. Kulihat sudah ada 2 orang yang datang, satu perempuan dan satunya bukan perempuan, ya laki-laki maksudku. Kemudian aku bergabung dengan mereka, duduk di bangku kayu panjang sambil menonton mas berpakaian wearpack tengah me-las besi. Aku mengulurkan tangan, mengajak berkenalan, menyebut namaku terlebih dahulu kemudian bertanya namanya. Meski aku manusia Introvert, berkepribadian INTJ (like Gitasav) kurasa disituasi ini lebih baik aku lebih dahulu yang mengajak berkenalan, soalnya dia terlihat lebih tua dariku. Haha.
Namanya Susi, lulusan Pendidikan Bahasa Inggris dari salah satu PT Palangka Raya. Nah benar kan dugaanku. Pengalamanku, di kelas maupun tempat kerja yang dulu, aku selalu jadi termuda. Maknae, yes.
Beberapa menit kemudian seorang mba HRD yang menelepon kemarin, memandu kami untuk memasuki ruangan tes tertulis.
Lewat pintu kaca yang sudah kusam, kami memasuki bangunan belakang hotel.
Langkah kaki kami melewati dapur hotel yang tak sempat ku-scan dengan mataku, lalu kami menaiki tanjakan yang bukan berbentuk tangga, datar namun miring, pastilah supaya bisa mudah dilewati troli, pikirku sok tahu.
Setelah berbelok kiri dan melewati dua pintu pemisah ruangan yang berbeda, akhirnya kami sampai di ruang aula hotel. Mba HRD membagi form tes tertulis kepada kami yang telah duduk berjajar di satu meja yang panjang.
Dimenit berikutnya masing-masing sibuk mengisi form, isinya tentang biodata dan beberapa soal terkait pekerjaan, tak jauh beda seperti tes pekerjaanku yang dulu. Hanya saja yang dulu lebih kompleks ada tes kepribadian segala, dimana aku memilih actionku di berbagai situasi sesuai empat pilihan yang ada dengan memberi nilai dalam kotak di samping masing-masing pernyataan. Nilainya 4,3,2,1. Angka itu menunjukkan kesesuaian jawaban kita, makin besar angka maka semakin sesuai dengan action yang akan kita lakukan.
Secara berkala peserta interview bertambah memasuki aula ini, ternyata banyak juga yang datang. Total yang kutahu ada 8 orang sudah.
Meski kaget aku maklum dengan suhu ruangan, hotel pastilah dingin, karena pasti ada AC. Kulihat AC yang digunakan adalah AC jenis Cassette yang terpasang di langit-langit atau plafon, kelebihannya suhu ruangan lebih mudah diatur makanya dipilih untuk ruangan rapat atau perkantoran. Namun kekurangannya adalah instalasinya yang cenderung lebih rumit. Ah, aku jadi ingat penjelasan pak Gunawan tentang AC sewaktu magang dulu.
Aku orang pertama yang menyelesaikan tes tertulis sekaligus orang kedua yang melakukan tes wawancara. Laki-laki yang kusebut bukan perempuan diawal tadi yang lebih dulu wawancara. Ternyata dia hari ini wawancara sesi kedua, so tidak melakukan tes tertulis lagi seperti kami.
Knock knock!
Tak ada sahutan, tanganku membuka pintu setinggi rumahku. Tak ada orang rupanya. Akhirnya aku kembali ke kursi menunggu pewawancara yang terdiri dari tiga orang itu.
Beberapa menit menunggu, akhirnya mereka kembali ke ruangan. Aku membuntuti dari belakang.
Brrrr.... Udara dari dalam berhembus seperti ketika pintu kulkas bagian freezer yang kubuka. Harap bertahan Ica!
Mengambil tempat duduk di kursi yang kutebak digunakan laki-laki tadi, terlihat dari posisinya yang berbeda dari kursi lainnya. Aku tepat berhadapan dengan pria kurus berkacamata di tengah dua pria gemuk tinggi besar yang juga berjas hitam.
"Silahkan perkenalkan diri menggunakan bahasa Inggris!"
Bekulah aku! Kenapa tidak bahasa Korea saja seperti yang kutulis diprofil, sebagai bahasa asing yang dikuasai dengan tingkat 'kurang'? Karena meski sama-sama belum menguasai, aku lebih suka bahasa Korea. Bagaimana tidak? Sepuluh tahun belajar English, tetap saja kemampuanku begini saja. Dendam masa kecilku pada English masih hidup, tapi tetap menghantui. Salahku sendiri sih sebenarnya, kenapa masih benci.
Ah sudahlah, sebisaku saja. Beruntungnya aku masih ingat kalimat perkenalan kelas satu SMP dulu.
Good Morning, everybody.
Let me introduce my self.
My name is Ica,
...
---
Tak tahu persis berapa lama aku berada di dalam. Ditanyai ini itu. Menurutku lebih asik wawancara pekerjaanku yang dulu, santai dan pertanyaan banyak diantaranya yang jauh dari pekerjaan (Next post insyaallah aku akan cerita, entah kapan ya). Kali ini formal, ujung-ujung jariku terasa lebih dingin jadinya. Grogi dan beku.
Pasti ada saja pertanyaan menjebak, tapi itu bukan hal yang perlu kupikirkan. Kurasa karena riwayat penyakitku, mereka ragu untuk menerimaku, meski keputusan diterima atau ditolak belum final saat ini. Wajah dan nada bicara mereka berubah. Aku bisa merasakannya.
Seminggu sudah berlalu dan aku masih belum menerima telepon lagi. Jika lebih dari dua minggu tetap sama, berarti perasaanku benar.
This is ending part in this post. Aku harus ingat, lebih dari seminggu yang lalu hari dimana aku belum mendapat panggilan wawancara, saat itu aku tak banyak berharap. Aku sudah berkali-kali kecewa karena sebuah harapan kepada manusia. Memang mereka pewawancara yang andil dengan hasilku, tapi biarlah Allah yang menentukan.
Termasuk berharap pada diriku sendiri, aku tak ingin. Bukan meremehkan diri atau percaya bahwa aku tak mampu, bukan. Kupikir yang terpenting adalah aku dan diriku telah mengusahakan dan telah berusaha yang terbaik. At Last, tetap berdoa.
Karena kepastian di dunia ini adalah ketidakpastian, maka kupikir ini yang harus kulakukan.
Aku bukan ahli rasa dan perasaan. Tapi, caraku untuk tak begitu terpuruk karena suatu perasaan atau kegagalan adalah mematikan rasa. Tak berfokus pada satu hal yang bisa membuatku berdiam diri di satu tempat. Kenyataannya, banyak hal yang harus kulakukan selain menunggu jawaban penuh rasa ini itu yang tidak mengenakan di hati.
Tak semua rasa harus dimatikan, pilihlah yang perlu. Yang membuatmu terpuruk dan mendatangkan hal buruk tentunya. Seperti..., perasaan ke mantan, mungkin. Ahah.
---
Wassalamu'alaikum, 안녕~ ♥
Tidak ada komentar:
Posting Komentar