Ibu, bunda, mama, atau mamih bukanlah sebutan yang aku gunakan untuk wanita luar biasa itu. Dimana 19 tahun 3 bulan 12 hari lalu dia melahirkan aku ke dunia. Aku memanggilnya Mamake, atau uma setelah pindah ke Pangkalan Bun. Ohya, khusus di kontak ponsel aku menamainya 엄마, bahasa Korea dari 'Mamake'.
22 Desember lalu, hari yang diperingati banyak orang sebagai hari ibu, membuatku berpikir lebih dari lima kali apakah harus mengucapkan 'Selamat' padanya. Tahun lalu aku mengucapkan kalimat itu, tapi tahun ini aku tak yakin.
Awalnya aku berpikir, bagaimana mengatakannya? Beberapa saat aku melamun, yang sebenarnya sedang menyusun kata-kata apa saja yang akan kusampaikan.
Monolog ini berlangsung lama, hingga tengah hari pun aku belum mengatakan apapun terkait hari ibu. Rutinitasku tetap sama pagi itu, selesai mencuci piring dilanjutkan menyapu lantai, lalu sarapan, minum obat, baca buku atau nonton tv kalau sudah bosan.
Ehya, main hp tentu. Scroll linimasa Instagram dan melihat story temen yang kenal maupun tidak. Isinya kurang lebih sama, ucapan mereka pada ibunya masing-masing. Aku yakin hanya nol koma sekian persen bahwa ibu mereka pengguna instagram, umur mereka kurang lebih denganku tapi lebih banyak yang lebih tua (aku beranggapan aku cukup muda di sini, oke? Haha). Semakin tua mereka, semakin tua juga ibunya. Yang artinya, ibunya masing-masing dari mereka itu bukan instagramers. This is weird theory, right?
Aneh saja bila kalimat-kalimat yang notabene ditujukan ibu, tapi ibunya gak bisa baca. Dan begonya, gue dulu pernah gitu. Bukan hanya tentang hari ibu, tapi banyak hal lainnya. Kali ini aku sadar, itu gak perlu.
Di postingan instagram lainnya berbeda, ada yang tidak setuju akan peringatan hari ibu. Karena alasan agama katanya.
Jika hari ibu membuat kita memberikan satu hari saja dalam satu tahun rasa sayang pada ibunya, yang padahal harusnya setiap hari, maka pemeringat hari ibu tidak dibenarkan.
Jika hari ibu membuat kita memberikan satu hari saja dalam satu tahun rasa sayang pada ibunya, yang padahal harusnya setiap hari, maka pemeringat hari ibu tidak dibenarkan.
Jika memang begitu, mereka hanya melunak pada ibunya karena satu momen dimana banyak orang yang melakukannya, tentu saja tidak benar.
Seorang ustad yang membahas pasal hari ibu itu mengutip sebuah hadist, 'Barang siapa yang mengikuti suatu kaum, maka ia termasuk di dalamnya. Jika seseorang mengikuti orang-orang kafir, maka kafirlah dia!
Antara setuju dan tidak.
Antara setuju dan tidak.
Aku kurang sependapat, kita tak tahu kehidupan masing-masing orang. Bisa saja momen ini, bagi mereka yang kesehariannya bukan tipe pribadi yang melihatkan kasih sayang dengan tindakan kasih hadiah, karena hadiah itu pake uang belinya. Di sini beda ya dengan kasih sayang non materi yang bisa diberikan setiap hari, dalam bentuk perhatian, merawat, dan berbakti.
Tapi kata 'kafir' membuatku mendapat sesuatu yang tidak enak di hatiku, barangkali banyak yang begitu. Kuharap dakwah disampaikan dengan cara mengajak, bukan memvonis. Kalaupun pemeringat hari ibu memanglah salah, kalimat dakwah seperti ini menurutku kurang sampai di hati, meski niatnya baik. Please dont judge me. It's just my opinion.
Actually aku memperingati hari ibu bukan karena orang barat melakukannya, yang dibilang kalo kita ikut mereka ya kita cuman berbakti kepada ibu satu hari aja. Sama sekali tidak, di sini aku mengambil positifnya. Setiap hari adalah hari istimewa yang Allah udah kasih ke kita. Kita masih bisa hidup, berbakti pada ortu, ibu khususnya. Kenapa hari yang biasanya istimewa tidak dianggap lebih istimewa dihari ibu ini?
Sebelum nulis sesuatu aku pasti mikir dulu, dan riset beberapa artikel terkait di internet. Satu hal yang aneh, ketika berkaitan dengan hukum haram peringatan hari ibu, sejarah yang dimasukan berasal dari Eropa, America dan Nasrani atau penyembahan Dewa. Sedangkan di Indonesia sendiri hari ibu merupakan hasil dari sebuah Kongres Perempuan Indonesia di Yogyakarta, tepatnya di pendopo Dalem Jayadipuran milik Raden Tumenggung Joyodipoero.
Bertujuan menghargai jasa para wanita pejuang bersama para lelaki dalam meraih kemerdekaan, maka dideklarasikanlah hari ibu. Ditetapkan tanggal 22 Desember sejak tahun 1928, sedangkan orang barat sana ada yang 8 Maret, dan bulan Mei. Secara tujuan dan sejarah berbeda, kenapa masih dikaitkan?
Bertujuan menghargai jasa para wanita pejuang bersama para lelaki dalam meraih kemerdekaan, maka dideklarasikanlah hari ibu. Ditetapkan tanggal 22 Desember sejak tahun 1928, sedangkan orang barat sana ada yang 8 Maret, dan bulan Mei. Secara tujuan dan sejarah berbeda, kenapa masih dikaitkan?
Aku seorang jamaah seperti kalian, tapi sekarang ini kita banyak dibingungkan oleh perbedaan pendapat para ulama. Perayaan ulang tahun, hari kemerdekaan, atau hari ibu disebut-sebut bid'ah. Tapi sebagian ulama mengatakan apabila tidak ada unsur ritual agama dan ibadah maka jatuhnya bukanlah bid'ah. Wallahu a'lam.
Pendapat yang kedua ini aku lebih setuju, bukan berarti ini sebuah pembenaran untuk hal yang salah. Tapi tidak bisakah semua dikembalikan ke niat dan tujuan?
Sama halnya dengan ulang tahun. Niat dan tujuan orang merayakannya pasti berbeda-beda, untuk aku pribadi ulang tahun itu semacam remember untuk bersyukur untuk segala hal yang telah kita miliki. Tentu saja kita harusnya bersyukur setiap hari, namun dengan tanggal ini manusia lebih mudah untuk ingat. Manusia adalah makhluk yang sering berbuat salah dan lupa.
Seperti aku dan Mamake yang, kami bukan keluarga yang terlalu melihatkan kasih sayang dengan hal memberi hadiah setiap hari, balik lagi ke uang. Entah itu baju, kue dan hal yang mamake suka. Sesekali or beberapa kali aja cukup, dan di momen ini kenapa enggak?
Aku bersyukur, meski begitu kasih sayangnya disampaikan lewat doa-doa yang ia panjatkan di setiap shalat. Beberapa kali aku mendengarnya sendiri kala subuh waktu itu.
---
---
Hingga di satu berita yang meliput peringatan hari ibu ini, sembari makan mamake bilang, "Hari ini hari ibu ya ternyata, kok gak ada yang ucapin?"
Di saat itulah aku mengucapkan selamat padanya sekaligus menyampaikan maaf, karena belum kembali bekerja aku belum bisa belikan daster. Satu-satunya baju favorit mamake di rumah.
"Gak apa-apa, besok-besok kan masih bisa," ujarnya tanpa menghentikan aktivitas makannya.
Di hari ibu itu, seperti hari-hari biasanya, hadiahku untuk Mamake adalah pijitan di kakinya, yang semoga mengurangi rasa pegal dan sakit. Tak perlu menunggu hari ibu, kan?
---
Kopi hitam yang kurang gula itu cenderung pahit ya? Tak lama setelah meneguk habis satu gelas kopi, aku mulai mengantuk. Ah, seperti biasa tidak ngefek. Katanya bisa bikin kita terjaga semalaman, tapi yang sudah-sudah tidak demikian.
Malam ini ternyata berbeda. Sudah pukul 3.11 dini hari aku belum terpejam juga. Tapi aku tak yakin ini efek kopi atau angen-angenku (kepikiran) buat nulis ini. I dont know.
Tulisan ini kupost siang nanti, karena harus kuedit lebih dulu. Setidaknya agar lebih rapi sedikit lah.
Kalau setelah selesai nulis tidur, berarti benar karena angen-angenku. Haha.
Kalau setelah selesai nulis tidur, berarti benar karena angen-angenku. Haha.
---
Wassalamu'alaikum, 안녕 ~♥

Tidak ada komentar:
Posting Komentar