Assalamualaikum, 잘 지내서요?
Judul di atas non fiktif lho, aku pernah berfikir begitu. Efek mantan, kah? Hmm.
Mantan adalah objek yang selalu menarik untuk diperbincangkan. 😆
Untuk seseorang yang kusebut 'mantan' semoga kamu tidak keberatan untuk sebutan ini/?. Sebelumnya, jika kamu membaca blogku terlebih judul di atas, tolong maafkan kesalahanpahaman yang tidak penting ini.
🐼
Satu hari di bulan Agustus tanggal 6 tepatnya, aku bertemu dengan dua orang teman di SMP dulu. Karena kelaparan, kami memutuskan makan di KFC. Makanannya biasa saja, tapi obrolan bersama teman lama yang jarang bertemu entah mengapa selalu seru. Kadang jadi (banyak) ghibah sih, ngomongin orang, teman yang lain, dan tak ketinggalan mantan!
Tidak melulu membicarakan keburukan orang kok, kami lebih membahas bagaimana 'ia' sekarang? Kepo 😆
Lupa waktu! Beberapa jam sudah berlalu, hari sudah sore, aku harusnya sudah pulang dari tadi. Mamake sudah sms pula, pasti kena ceramah pulang nanti.
Tak beruntungnya ketika kami baru saja keluar, hujan turun dengan lebatnya. Jas hujan tidak ada, dan aku sedang tak ingin hujan-hujanan, kami pun akhirnya kembali duduk di teras cafe yang belum buka. Obrolan pun kembali mengalir. (Maaf Mak)
Entah kenapa obrolan ini bermuara lagi tentang mantan. Salah satu temanku itu satu sekolahan dengan mantanku, jadi dia sedikit banyak tahu tentang 'dia'. (Ah, kenapa kaku begini nulisnya?)
"Iya, dia itu..."
Kalimat temanku barusan entah bagaimana seperti ketukan di hatiku, terkejut sekaligus tak percaya.
Ini tidak benar! Sudah berlalu tiga tahun seharusnya tak begini rasanya. Seharusnya, kan? Aku menjadi orang bodoh yang masih saja mengingat tiga tahun lalu. (DRAMATIS 😂)
---
Dulu, aku bekerja di salah satu perusahaan distributor produk Nestle di kotaku, sebagai Merchandiser. Setidaknya meski aku introvert, dengan beberapa orang terdekat hari-hari di pekerjaan terasa menyenangkan dan berwarna. Hari-hari berat berubah jadi indah. Haha.
Sesuai dengan rencanaku, aku mendaftar kuliah di Universitas Terbuka setelah bekerja setahun sejak lulus SMK. Bayar sks sudah, buku dalam proses pengiriman, aku tinggal menunggu paket buku datang dan tak lama kemudian pembelajaran dimulai akhir bulan. Yeay!
Setelah pertemuan kami bertiga, besoknya aku bekerja seperti biasa. Memulai di pagi hari mengunjungi beberapa toko dan melakukan tugas pekerjaan, namun beranjak siang ada sesuatu yang tidak beres. Mataku berkunang-kunang, kepalaku pusing disertai mual. Ada apa dengan diriku?
Aku memutuskan untuk tidur sejenak di rumah temanku di jam istirahat, biasanya akan membaik setelahnya. Tapi tak bisa.
"Kamu terlalu banyak pikiran mungkin? Ceritalah, siapa tahu membaik," saran mba Olive, seseorang yang mulai masuk kerja tiga bulan setelahku. Ya, kami bekerja di tempat dan posisi yang sama.
"Sepertinya tak ada. Hanya saja kemarin aku baru tahu satu hal tentang..." Ah! Aku baru ingat, tentang mantan semalam (semalam=kemarin)!
Tapi jujur saja aku tidak begitu memikirkannya, awalnya saja aku terkejut. Tapi entahlah jika pikiran bawah sadarku yang memikirkannya dengan serius. Jadi, aku pun bercerita pada mba Olive. Sesi curhat episode sekian dimulai.
Ajaibnya setelah bercerita, aku tak lagi mual, kepalaku sedikit lebih ringan! Hmm, aneh sekali.
"Nah, kan benar. Ica masih kepikiran mantan ternyata!"
Aku jadi bertanya-tanya, sebegitunya kah efek dari pikiran tentangnya? Semuanya lebih baik ketika akhirnya aku bisa tidur. Alhamdulillah.
🐼
Aku salah, yang selanjutnya lebih parah dari dugaan. Setiap hari aku merasakan hal yang sama, ditambah demam yang tidak stabil. Untuk bekerja, tubuh terasa lemas, hari demi hari bertambah lemas. Tapi aku tetap berusaha bekerja dengan normal, ini kewajibanku untuk hak gaji satu bulan Agustus. Kewajiban lebih dahulu, hak kemudian, bukan?
Setiap malam aku berkeringat banyak, padahal aku tipe orang yang jarang berkeringat, entah karena kelenjar keringatku yang tersumbat atau apa. Wajahku memucat, batuk parah, dan puncaknya berat badan (massa badan) turun 9kg! Pantas saja pipiku tak segembul hari kemarin.
Mamake prihatin dengan keadaanku, mengingat dua bulan yang lalu aku telah menjalani operasi, harusnya memang istirahat cukup pasca operasi sedangkan dalam keadaan bekerja tentu saja terbatas kuota cuti yang hanya 12 hari. Mamake menyarankanku untuk resign dari pekerjaan.
Dulu semasa sekolah saja aku paling susah untuk ijin tidak masuk sekolah karena sakit, apalagi sekarang. Ada beban hidup setiap bulan yang aku tanggung. Aku dan Mamake. Namun di sisi lain tubuhku makin kehilangan fungsi normalnya. Ya, Allah.
Memasuki akhir bulan Agustus, pembelajaran dimulai, sedang aku makin tak bisa melakukan banyak hal. Separah inikah sakit yang aku derita?
1 September 2017, disaat kurasa aku tidak kuat lagi, akhirnya aku resign.
Satu hal yang kutahu, ini bukan 'karena' efek mantan, meski sakitku ini dimulai setelah aku mendengar tentangnya.
🐼
Bagian 2 🔜Semester 1: Kado ke-19
Wassalamu'alaikum, 바이♥
Judul di atas non fiktif lho, aku pernah berfikir begitu. Efek mantan, kah? Hmm.
Mantan adalah objek yang selalu menarik untuk diperbincangkan. 😆
Untuk seseorang yang kusebut 'mantan' semoga kamu tidak keberatan untuk sebutan ini/?. Sebelumnya, jika kamu membaca blogku terlebih judul di atas, tolong maafkan kesalahanpahaman yang tidak penting ini.
🐼
Satu hari di bulan Agustus tanggal 6 tepatnya, aku bertemu dengan dua orang teman di SMP dulu. Karena kelaparan, kami memutuskan makan di KFC. Makanannya biasa saja, tapi obrolan bersama teman lama yang jarang bertemu entah mengapa selalu seru. Kadang jadi (banyak) ghibah sih, ngomongin orang, teman yang lain, dan tak ketinggalan mantan!
Tidak melulu membicarakan keburukan orang kok, kami lebih membahas bagaimana 'ia' sekarang? Kepo 😆
Lupa waktu! Beberapa jam sudah berlalu, hari sudah sore, aku harusnya sudah pulang dari tadi. Mamake sudah sms pula, pasti kena ceramah pulang nanti.
Tak beruntungnya ketika kami baru saja keluar, hujan turun dengan lebatnya. Jas hujan tidak ada, dan aku sedang tak ingin hujan-hujanan, kami pun akhirnya kembali duduk di teras cafe yang belum buka. Obrolan pun kembali mengalir. (Maaf Mak)
Entah kenapa obrolan ini bermuara lagi tentang mantan. Salah satu temanku itu satu sekolahan dengan mantanku, jadi dia sedikit banyak tahu tentang 'dia'. (Ah, kenapa kaku begini nulisnya?)
"Iya, dia itu..."
Kalimat temanku barusan entah bagaimana seperti ketukan di hatiku, terkejut sekaligus tak percaya.
Ini tidak benar! Sudah berlalu tiga tahun seharusnya tak begini rasanya. Seharusnya, kan? Aku menjadi orang bodoh yang masih saja mengingat tiga tahun lalu. (DRAMATIS 😂)
---
Dulu, aku bekerja di salah satu perusahaan distributor produk Nestle di kotaku, sebagai Merchandiser. Setidaknya meski aku introvert, dengan beberapa orang terdekat hari-hari di pekerjaan terasa menyenangkan dan berwarna. Hari-hari berat berubah jadi indah. Haha.
Sesuai dengan rencanaku, aku mendaftar kuliah di Universitas Terbuka setelah bekerja setahun sejak lulus SMK. Bayar sks sudah, buku dalam proses pengiriman, aku tinggal menunggu paket buku datang dan tak lama kemudian pembelajaran dimulai akhir bulan. Yeay!
Setelah pertemuan kami bertiga, besoknya aku bekerja seperti biasa. Memulai di pagi hari mengunjungi beberapa toko dan melakukan tugas pekerjaan, namun beranjak siang ada sesuatu yang tidak beres. Mataku berkunang-kunang, kepalaku pusing disertai mual. Ada apa dengan diriku?
Aku memutuskan untuk tidur sejenak di rumah temanku di jam istirahat, biasanya akan membaik setelahnya. Tapi tak bisa.
"Kamu terlalu banyak pikiran mungkin? Ceritalah, siapa tahu membaik," saran mba Olive, seseorang yang mulai masuk kerja tiga bulan setelahku. Ya, kami bekerja di tempat dan posisi yang sama.
"Sepertinya tak ada. Hanya saja kemarin aku baru tahu satu hal tentang..." Ah! Aku baru ingat, tentang mantan semalam (semalam=kemarin)!
Tapi jujur saja aku tidak begitu memikirkannya, awalnya saja aku terkejut. Tapi entahlah jika pikiran bawah sadarku yang memikirkannya dengan serius. Jadi, aku pun bercerita pada mba Olive. Sesi curhat episode sekian dimulai.
Ajaibnya setelah bercerita, aku tak lagi mual, kepalaku sedikit lebih ringan! Hmm, aneh sekali.
"Nah, kan benar. Ica masih kepikiran mantan ternyata!"
Aku jadi bertanya-tanya, sebegitunya kah efek dari pikiran tentangnya? Semuanya lebih baik ketika akhirnya aku bisa tidur. Alhamdulillah.
🐼
Aku salah, yang selanjutnya lebih parah dari dugaan. Setiap hari aku merasakan hal yang sama, ditambah demam yang tidak stabil. Untuk bekerja, tubuh terasa lemas, hari demi hari bertambah lemas. Tapi aku tetap berusaha bekerja dengan normal, ini kewajibanku untuk hak gaji satu bulan Agustus. Kewajiban lebih dahulu, hak kemudian, bukan?
Setiap malam aku berkeringat banyak, padahal aku tipe orang yang jarang berkeringat, entah karena kelenjar keringatku yang tersumbat atau apa. Wajahku memucat, batuk parah, dan puncaknya berat badan (massa badan) turun 9kg! Pantas saja pipiku tak segembul hari kemarin.
Mamake prihatin dengan keadaanku, mengingat dua bulan yang lalu aku telah menjalani operasi, harusnya memang istirahat cukup pasca operasi sedangkan dalam keadaan bekerja tentu saja terbatas kuota cuti yang hanya 12 hari. Mamake menyarankanku untuk resign dari pekerjaan.
Dulu semasa sekolah saja aku paling susah untuk ijin tidak masuk sekolah karena sakit, apalagi sekarang. Ada beban hidup setiap bulan yang aku tanggung. Aku dan Mamake. Namun di sisi lain tubuhku makin kehilangan fungsi normalnya. Ya, Allah.
Memasuki akhir bulan Agustus, pembelajaran dimulai, sedang aku makin tak bisa melakukan banyak hal. Separah inikah sakit yang aku derita?
1 September 2017, disaat kurasa aku tidak kuat lagi, akhirnya aku resign.
Satu hal yang kutahu, ini bukan 'karena' efek mantan, meski sakitku ini dimulai setelah aku mendengar tentangnya.
🐼
Bagian 2 🔜Semester 1: Kado ke-19
Wassalamu'alaikum, 바이♥
Tidak ada komentar:
Posting Komentar