Sabtu, 06 Januari 2018

Semester 1: Kado Ke-19 (Bagian 2)

Assalamualaikum, 뭐하고 있어요?

Sabtu ini adalah hari yang damai. Sedari pagi awan kelabu mendominasi langit. Angin bertiup dari arah barat laut menambah melankoli Sabtu kelabu, seperti menyampaikan sebuah pesan 'akan turun hujan'. Alhamdulillah, hujan juga rezeki-Nya, kan?

Rintik hujan yang kemudian turun perlahan, hawa dingin, dan percikan air yang terbawa angin masuk ke dalam tenda. Hari yang basah, pasti nyaman sekali untuk bersembunyi dalam selimut, memangku novel non fiksi berjudul Pendidikan Kewarganegaraan (boleh lah ya kusebut novel), dan sesekali meneguk teh hijau untuk sedikit menstabilkan kehangatan tubuh. Ohya hampir lupa, tentu juga memutar lagu Korea dari handphone. Ah, kondisi ideal.

-Stop gaya bahasa novelisnya-
Hari ini target nulis post kelanjutan kemarin adalah selesai sekitar pukul 13.00 waktu Batu Belaman (nama Desaku), dan diposting saat itu juga. Tapi kurasa tidak bisa, aku dikontrak menjaga prasmanan di hajatan tetangga sebelah rumah. Padahal kau tahu, seperti yang kutulis di atas tadi.
🐼
Semester 1: Efek Mantan (Bagian 1)🔙 Part 1

Kado ke 19

"Sekarang jam 9, pas saat kamu lahir dulu. Selamat ulang tahun, ya Ca."

16 September tahun lalu, aku kembali menangis. Ketika Mamake memelukku dan mengucapkan selamat beserta doanya, ditambah sepiring nasi kuning buatannya hari itu. Hatinya selalu menghangatkan hatiku. Aku tak pandai berhitung, jadi anggap saja urutan kado itu sesuai tahun usiaku.

Ulang tahun seperti yang pernah kutulis di post, reminding untuk bersyukur dihari itu, meski tetap hari yang lain pun sama untuk disyukuri.

Pernah berpikir seberapa lama lagi kita hidup? Kapan kita meninggalkan atau malah kita yang ditinggalkan mereka orang-orang terkasih? Aku sering! Terlebih karena satu hal, sehari sebelum ulang tahunku. Tahun yang sedikitnya ada kelabu di hatiku.
---
"Ya ampun Ica, kamu pucet banget, kelihatan makin kurus juga. Semoga cepat sembuh ya Ica."
Kurang lebih semua teman kerjaku mengatakan demikian dihari terakhir masuk kerja. Terima kasih untuk 1 tahun, 1 bulan dan 1 minggu belakangan, teman-teman.

Hari-hari berikutnya aku hanya berada di atas tempat tidur, makin jarang makan dengan porsi yang terus berkurang. Juga batuk yang membuatku susah tidur.

Sehari setelah resign aku datang ke rumah sakit swasta yang cukup bagus di kotaku berharap mendapatkan pelayanan yang lebih baik dan lekas sembuh, lalu mulai bekerja lagi. Setelah menjalani tes darah dan menunggu hasilnya, dokter mengatakan aku positif tipes. Riwayat penyakit yang dulu pernah aku derita karena terlalu lelah mengikuti OSN saat SMK. Aku optimis akan cepat sembuh jika rajin menelan obat yang diresepkan dokter.

Tiga hari kemudian, aku kembali mengecek keadaanku ke rumah sakit yang sama. Bukannya membaik, dokter menduga lambungku bermasalah, menurutnya nafsu makanku menurun drastis karenanya. Kemudian dokter meresepkan obat baru untukku.

Di saat itu, seperti biasanya Mamake adalah orang pertama yang paling telaten merawat, menemani ke dokter, memaksaku untuk makan meski sering tidak berhasil karena perutku tidak menerimanya. Usianya yang sudah tua, tubuhnya juga tak sepenuhnya sehat, kakinya sering sakit begitupun sendi-sendi tubuhnya. Hatiku menangis, kasih dan perhatiannya selalu penuh cinta. Bersyukur sekaligus bersalah masih menjadi bebannya di masa tua.

Kesehatanku mulai membaik, namun berbanding terbalik dengan batuk yang semakin parah. Ini adalah kali pertama dalam hidupku dengan batuk yang separah ini. Aku batuk sepanjang hari hampir tak berjeda, bahkan malam hari saat tertidur. Masih berkeringat di malam hari. Bagi yang pernah mengalami gejala seperti ini mungkin kalian tahu aku menderita penyakit apa.

Mamake lagi-lagi paling mengerti apa yang terbaik, aku dibawa ke puskesmas terdekat untuk menanyakan perihal batuk itu. Salah satu tetanggaku juga menyarankan begitu, agar dicek dahaknya. Aku pun menurut.

Memasuki satu setengah bulan, yang awalnya batuk berdahak berubah menjadi batuk tidak berdahak, untuk itu mereka memberiku obat pengencer dahak lalu dites di laboratorium. Hasilnya keluar sehari kemudian. Bersama abangku yang kedua, kami duduk berhadapan dengan petugas lab.

"Berdasarkan hasil tes dahak, Nona Ica dinyatakan positif TB. Harus dilakukan pengobatan rutin selama 6 bulan berturut tanpa putus. Sekarang saya mau mengambil darahnya sedikit untuk tes HIV," nada bicaranya yang penuh empati tetap saja membuatku terpuruk. Mendengar kata TB saja sudah sulit untuk menerimanya, istilah lain lebih memberatkan lagi. HIV? Ya Allah, kuatkan hamba.

Aku bahkan belum bisa mencerna hasil tes, benarkah? Seorang petugas puskesmas yang menangani kasus TB meminta data diriku, lalu memberi obat dengan dosis sesuai massa tubuhku. Dia menanyakan banyak hal, termasuk apa ada orang terdekat yang menderita TB. Barulah aku ingat, teman di kantor dulu ada yang menderita TB. Kemungkinan aku tertular lewat udara.

Di menit yang entah keberapa aku mulai  menangis, rasanya begitu sesak di dada. Petugas puskesmas di depanku meyakinkan bahwa aku bisa sembuh. TB atau Tuberkulosis yang disebabkan oleh Bakteri Tahan Asam (BTA) Mycobacterium tuberculosis yang bersarang dalam paru-paruku bisa di matikan.

Petugas lab tadi menampakkan dirinya di ambang pintu. Dia memberi hasil tes darahku, negatif HIV. Alhamdulillah.

Jika TB tidak bisa dibilang kado ke 19 juga, dia adalah kejutan terbesar dalam hidupku.
🐼
Aku berpikir, sepertinya 3 part tidak cukup, karena masih panjang 😆 tapi akan kuusahakan tetap tamat di part ke 3.

Part 3🔜 Semester 1: Patah Hati
Wassalamu'alaikum, 바이♥



Tidak ada komentar:

Posting Komentar