Assalamu'alaikum, 오랜 만이야~
Apa kabar? Terakhir aku nulis dan update blog hari sabtu lalu, dan sabtu ini baru 'menyempatkan' update. Aku sibuk! 😂
Insyaallah, blog akan update 2 kali seminggu maksimal dihari Rabu dan Sabtu, atau minimal 1 kali seminggu setiap sabtu. Aku akan update malam hari. Bukan malam Minggu lho! Tapi Sabtu malam. Sampai saat ini aku masih aja gak 'ingat' dan gak 'ngeh' terjadinya peristiwa malam Minggu di Sabtu malam. 😁
Aku yang tadi lagi berdoa setelah shalat Isya agak gak konsen, gegara abangku yang kedua (btw abangku tiga) nonton On The Spot, yang lagi bahas 'JOMBLO' 😆
Ada yang nonton juga? Bagiku yang sampai saat ini berstatus demikian, jomblo itu adalah fase terbaik untuk fokus sama cita-cita dan belajar untuk mencintai diri sendiri sebelum mencintai orang asing.
Anggap saja benar ya, fase Jomblo menurutku. 😏 Mari, teman sejomblo sekalian dibaca lanjutan Cerpenku 'Aku Senang Bersedih'. 😂
🐼
Hannam-dong street, jalanan yang ditumbuhi barisan pohon berseberangan. Musim gugur menyisakan pepohonan yang dulu bermekaran sakura menjadi daun-daun hijau lebat yang mulai menguning, coklat atau merah diawal September. Kami duduk di salah satu bangku taman setelah beberapa menit berjalan.
Aku tak pernah mengerti bagaimana bisa mamake bertahan dengan pernikahannya, sampai memiliki empat orang anak. Dan akulah si bungsu. "Karena mamake cinta sama bapakmu," jawab mamake saat kutanyakan pertanyaanku. Aku menghela napas. Itukah alasannya?
Aku kecil tak jauh berbeda dengan Rahmat kecil. Main di kali bersama Feri dan Purwanto adalah hal yang menurutku penting. Makan, tidur dan mandi adalah hal lain yang lumayan penting. Tapi bagi mamake hal terpenting adalah uang dan beras untuk makan setiap hari.
Aku terlalu kecil untuk mengerti, mamake pergi ke sawah orang bersama temannya memanen padi atau kacang hijau di tengah panasnya siang. Sawah tidak beratap. Aku ingat bagaimana perbedaan kulit mamake yang coklat menjadi hitam terbakar.
Terkadang ketiga kakak laki-lakiku ikut membantu. Aku tak mau kalah, aku ikut ke sawah juga. Paling tidak aku membantu memetik beberapa batang kacang hijau yang masih dibungkus kulit hitam. Hingga akhirnya berhenti, setelah aku menejerit keras saat mendapati ulat bulu hijau di tanganku. Dan kembali bergabung lagi saat makan bekal nasi dengan sayur kangkung. Duduk di pematang sawah sambil rebutan makanan dengan kakakku.
Sudah beberapa hari mamake menjemur kacang hijau. Kulitnya mulai terbuka, dan yang lain kami injak-injak dengan sandal. 'Klik klik' bunyi kulit kacang hijau yang terbuka menjadi musik yang mengiringi gerakan kaki kami. Kukira kacang hijau itu adalah milik kami, ternyata setelah kulitnya dibuang, mamake harus mengantarnya kepada pemilik sawah untuk ditimbang lalu di bayar dengan uang.
"Mat, nanti kalau nasinya sudah matang kompornya dimatikan, ya. Mamake mau nukar kacang hijau dulu..." tangis mamake pecah seketika, tubuhnya ambruk dibawah jemuran pakaian kami yang terbuat dari bambu. Hanya dari kacang hijau mamake mendapatkan uang. Jika menunggu bapake mungkin kami tidak akan makan.
"Istighfar mak, istighfar," kata kang Rahmat menenangkan mamake yang masih menumpahkan air matanya.
Dedaunan yang tertiup angin musim gugur, terbang dan bergulir di udara sebelum pada akhirnya jatuh ke jalan atau rerumputan, juga terkadang di atas kepala. Seperti salju yang jatuh dari langit.
Aku tak banyak tahu tentang bapake. Ia jarang pulang, bahkan akupun bisa menghitungnya dengan jari berapa kali kami bertemu. Ia seorang supir yang jauh pergi ke Sumatera sejak aku TK sampai SD. Saat pulang, ia lebih memilih menghabiskan waktu dan uangnya di rumah judi.
Ketika aku naik ke kelas lima, bertepatan bapake pergi untuk bekerja di Kalimantan. Kami berharap ada perubahan bapake ke sisi yang lebih baik. Tapi harapan tak selalu jadi kenyataan. Bapake tak selalu mengirim uang setiap bulan. Ketika bulan berikutnya mengirim uang, uangnya akan segera habis untuk melunasi hutang bulan lalu.
"Lili, mamake belum ada uang untuk daftar ulang sekolahmu SMP. Kamu tunda dulu satu tahun, ya?" Tanya mamake pelan-pelan kepadaku.
Aku baru lulus SD dan Alhamdulillah nilai Ujian Nasionalku tertinggi di sekolah. Seperti teman-teman lainnya aku pun mendaftar di sekolah yang kami idam-idamkan. Aku tak berani mengatakan tidak mau, itu sama saja menyiksa mamake. Tapi, di sisi lain aku sedih untuk diriku sendiri, dan malu dengan teman sebayaku.
Bagaimana aku, jika harus sekelas dengan angkatan dibawahku. Sungguh aku tak pernah membayangkan alur hidupku seperti ini.
Bagian 3 🔜
🐼
Aku Senang Bersedih (Bagian 1) 🔙 Bagian 1
Wassalamu'alaikum, 안녕~♥
Apa kabar? Terakhir aku nulis dan update blog hari sabtu lalu, dan sabtu ini baru 'menyempatkan' update. Aku sibuk! 😂
Insyaallah, blog akan update 2 kali seminggu maksimal dihari Rabu dan Sabtu, atau minimal 1 kali seminggu setiap sabtu. Aku akan update malam hari. Bukan malam Minggu lho! Tapi Sabtu malam. Sampai saat ini aku masih aja gak 'ingat' dan gak 'ngeh' terjadinya peristiwa malam Minggu di Sabtu malam. 😁
Aku yang tadi lagi berdoa setelah shalat Isya agak gak konsen, gegara abangku yang kedua (btw abangku tiga) nonton On The Spot, yang lagi bahas 'JOMBLO' 😆
Ada yang nonton juga? Bagiku yang sampai saat ini berstatus demikian, jomblo itu adalah fase terbaik untuk fokus sama cita-cita dan belajar untuk mencintai diri sendiri sebelum mencintai orang asing.
Anggap saja benar ya, fase Jomblo menurutku. 😏 Mari, teman sejomblo sekalian dibaca lanjutan Cerpenku 'Aku Senang Bersedih'. 😂
🐼
Hannam-dong street, jalanan yang ditumbuhi barisan pohon berseberangan. Musim gugur menyisakan pepohonan yang dulu bermekaran sakura menjadi daun-daun hijau lebat yang mulai menguning, coklat atau merah diawal September. Kami duduk di salah satu bangku taman setelah beberapa menit berjalan.
Aku tak pernah mengerti bagaimana bisa mamake bertahan dengan pernikahannya, sampai memiliki empat orang anak. Dan akulah si bungsu. "Karena mamake cinta sama bapakmu," jawab mamake saat kutanyakan pertanyaanku. Aku menghela napas. Itukah alasannya?
Aku kecil tak jauh berbeda dengan Rahmat kecil. Main di kali bersama Feri dan Purwanto adalah hal yang menurutku penting. Makan, tidur dan mandi adalah hal lain yang lumayan penting. Tapi bagi mamake hal terpenting adalah uang dan beras untuk makan setiap hari.
Aku terlalu kecil untuk mengerti, mamake pergi ke sawah orang bersama temannya memanen padi atau kacang hijau di tengah panasnya siang. Sawah tidak beratap. Aku ingat bagaimana perbedaan kulit mamake yang coklat menjadi hitam terbakar.
Terkadang ketiga kakak laki-lakiku ikut membantu. Aku tak mau kalah, aku ikut ke sawah juga. Paling tidak aku membantu memetik beberapa batang kacang hijau yang masih dibungkus kulit hitam. Hingga akhirnya berhenti, setelah aku menejerit keras saat mendapati ulat bulu hijau di tanganku. Dan kembali bergabung lagi saat makan bekal nasi dengan sayur kangkung. Duduk di pematang sawah sambil rebutan makanan dengan kakakku.
Sudah beberapa hari mamake menjemur kacang hijau. Kulitnya mulai terbuka, dan yang lain kami injak-injak dengan sandal. 'Klik klik' bunyi kulit kacang hijau yang terbuka menjadi musik yang mengiringi gerakan kaki kami. Kukira kacang hijau itu adalah milik kami, ternyata setelah kulitnya dibuang, mamake harus mengantarnya kepada pemilik sawah untuk ditimbang lalu di bayar dengan uang.
"Mat, nanti kalau nasinya sudah matang kompornya dimatikan, ya. Mamake mau nukar kacang hijau dulu..." tangis mamake pecah seketika, tubuhnya ambruk dibawah jemuran pakaian kami yang terbuat dari bambu. Hanya dari kacang hijau mamake mendapatkan uang. Jika menunggu bapake mungkin kami tidak akan makan.
"Istighfar mak, istighfar," kata kang Rahmat menenangkan mamake yang masih menumpahkan air matanya.
Dedaunan yang tertiup angin musim gugur, terbang dan bergulir di udara sebelum pada akhirnya jatuh ke jalan atau rerumputan, juga terkadang di atas kepala. Seperti salju yang jatuh dari langit.
Aku tak banyak tahu tentang bapake. Ia jarang pulang, bahkan akupun bisa menghitungnya dengan jari berapa kali kami bertemu. Ia seorang supir yang jauh pergi ke Sumatera sejak aku TK sampai SD. Saat pulang, ia lebih memilih menghabiskan waktu dan uangnya di rumah judi.
Ketika aku naik ke kelas lima, bertepatan bapake pergi untuk bekerja di Kalimantan. Kami berharap ada perubahan bapake ke sisi yang lebih baik. Tapi harapan tak selalu jadi kenyataan. Bapake tak selalu mengirim uang setiap bulan. Ketika bulan berikutnya mengirim uang, uangnya akan segera habis untuk melunasi hutang bulan lalu.
"Lili, mamake belum ada uang untuk daftar ulang sekolahmu SMP. Kamu tunda dulu satu tahun, ya?" Tanya mamake pelan-pelan kepadaku.
Aku baru lulus SD dan Alhamdulillah nilai Ujian Nasionalku tertinggi di sekolah. Seperti teman-teman lainnya aku pun mendaftar di sekolah yang kami idam-idamkan. Aku tak berani mengatakan tidak mau, itu sama saja menyiksa mamake. Tapi, di sisi lain aku sedih untuk diriku sendiri, dan malu dengan teman sebayaku.
Bagaimana aku, jika harus sekelas dengan angkatan dibawahku. Sungguh aku tak pernah membayangkan alur hidupku seperti ini.
Bagian 3 🔜
🐼
Aku Senang Bersedih (Bagian 1) 🔙 Bagian 1
Wassalamu'alaikum, 안녕~♥
Tidak ada komentar:
Posting Komentar