Minggu, 14 Januari 2018

Cycling Routine: Cimplukan (Bagian 1)


Assalamu’alaikum, 좋은 밤이예요 여러분!

Awalnya aku berencana menulis tentang ‘sepedaan rutin’ ketika sudah genap seminggu (tapi jumlah hari dalam seminggu tidak genap ya! Aku tidak mau dibilang sesat) melakukan rutinitas ini. Ya, bersepeda adalah kegiatan yang kuusahakan menjadi kebiasaan baru. Aku ini buruk sekali dalam olahraga, apalagi lari kecuali kalau ikut main sepak bola. Serius, aku suka ikutan kalau dibolehin. Mungkin karena main sepak bola banyak ketawa dan kelipur sama permainan, aku bisa lari lebih banyak (lama dan jauh). Jadi, tujuan utamanya untuk lari bukan mencetak gol. 

Tapi sekarang berubah, aku ikut main sama siapa coba? Kalau di SMK dulu kan sama temen sekelas. Laki-laki tentunya. Di jurusanku, perempuan adalah minoritas dalam minoritas. Karena bermain sepak bola inilah, aku jadi tontonan guru dan dikenal adik kelas. Ciee, haha, kenapa bisa begitu? Ohya, main sepak bolanya pas jam istirahat habis pelajaran olahraga ya, pakai celana bukan rok. Hihi.

Kembali tentang ‘sepedaan’ aku baru memulainya sejak tanggal 10 Januari lalu, sudah 5 hari artinya. Selama 4 hari itu biasanya aku mulai bersepeda dari rumah pukul 6 pagi dengan rute yang masih dalam area perumahan sampai ujung jalan baru yang menghubungkan ke jalan raya. Kenapa kusebut jalan baru? Karena jalan ini baru diaspal teman-teman. Akses jalan menuju perumahan menjadi lebih mudah, nyaman, indah/?. Terima kasih yang sudah aspal, aku tak tahu siapa kamu, intinya makasih~!

Di hari ke-6 ini, seperti biasanya mengenakan cardigan orange, kerudung merah marun, dan sepeda lipat yang juga warna merah, aku mulai mengayuh sepeda perlahan. Hari ini cuacanya teduh, seperti mau turun hujan, semoga saja hujannya nanti setelah aku selesai.
Mataku menyapu tepi jalanan yang basah, kebun jagung manis dan semak yang mendominasi. Hingga mataku terpaku pada satu tumbuhan. Aku menyebutnya cimplukan. 
 Wah, senang bukan main! Alhamdulillah.

Tahu buah ini? Kalian menyebutnya dengan nama apa?

Aku suka sekali buah ini dari kecil. Rasanya manis, dan lucu karena buahnya dibungkus hingga terlihat seperti lampion. Di desaku dulu, buah ini banyak tumbuh di dekat sawah.
Cimplukan ini ternyata mahal lho, kalau sudah masuk super market. Haha, maksudku cimplukan yang dijual di super market. Tapi bedanya mereka yang dijual berukuran lebih besar, mungkin bukan yang liar seperti ini. Kalau kalian yang masuk ya gak jadi mahal.

Buah ini, setelah barusan aku googling, memiliki manfaat yang banyak, beberapa diantaranya baik untuk pernderita kolestrol, mencegah flu dan batuk, serta baik bisa menyembuhkan penyakit parkinson (degenerasi sel saraf pada otak yang membuat penderitanya mengalami tremor atau gemetaran), pantaslah harganya bisa Rp200.000,- sampai Rp500.000,-  per kilogram. Wow!


Saat memfoto cimplukan di atas, hujan mulai turun! Aku mulai panik dan bergegas pulang. Handphone anti air pula (tidak bisa kena air), takut rusak. Kulihat tanaman Cimplukan ada tiga, karena ini liar dan milik pemerintah bukan perorangan, aku putuskan untuk mencabutnya satu untuk ditanam di rumah.


Ini dia pohonnya! Kukatakan padanya, “Tumbuhlah dengan baik dan berbuah banyak, ya. Terima kasih!”

Aku memang suka berbicara pada diri sendiri. Kemudian, setelah membaca buku The Power of Water karya Masaru Emoto, aku mulai suka bicara pada hewan dan tumbuhan. Meski mereka tidak merespon secara langsung, kalimat kita berpengaruh bagi mereka, lho! 

Aku dapat satu yang sudah matang, berwarna kekuningan dan pembungkusnya yang sudah mulai mengering.

Untuk sepeda sendiri, aku menggunakan sepeda lipat pemberian dari mba Lina. Aku sangat beruntung mendapatkan sepeda ini gratis (fenomena favorit dalam hidup, hihi). Dengan kemudahan ini, semoga aku bisa membiasakan hidup sehat dengan olahraga bersepeda setiap hari. Aamiin.
Wassalamu’alaikum, 안녕~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar