Minggu, 07 Januari 2018

Semester 1: Patah Hati (Bagian 3/End)

Assalamu'alaikum, 안녕하세요 여러분!

Pagi ini aku masih mengenakan gamis warna biru tosca untuk acara jaga prasmanan tadi malam. Dirasa-rasa, gamis yang sudah beberapa kali aku gunakan ini, membuatku jadi tenggelam. Entah karena aku yang memendek atau gamisnya yang memanjang.

Sekitar jam 10 pagi tadi, setelah menyelesaikan tugas wanita rumahan (sebuah skenario hidup tak terduga 😂), barulah aku sarapan yang mestinya baik dilaksanakan/? sebelum jam 9 pagi seperti dalam iklan Energen. Pada dasarnya ketika tidak sakit pun aku malas makan, apa karena nama panggilanku di post Apa Arti Namaku?  ya, jadi aku cacingan?
Aduh jangan sampai deh.

Atas dasar kemalasan ini, aku berpikir 'andai' bisa seperti Unta yang menyimpan cadangan air dan lemak sebagai nutrisi dalam punuknya, sehingga makan lebih jarang tidak apa-apa. Masalahnya punuk seperti Unta bukanlah bagian anatomi tubuh manusia, khayalan ini tidak akan terwujud. Fix.

Untuk judul, ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan MANTAN, oke? Aku ingin menyampaikan definisi lain patah hati, bukan melulu galau dan putus cinta. Kalau begitu, sok dibaca. 😂
🐼
Semester 1: Kado ke-19 (Bagian 2) 🔙 Part 2

Patah Hati

Sejak sehari sebelum ulang tahunku itu, setiap pagi sebelum makan aku menelan tiga butir obat berwarna merah yang berukuran cukup besar. Berhari-hari rutin menelan bukannya lebih mudah, obat dengan komposisi rifampicine dkk ini sangat seret di tenggorokan. Bahkan beberapa kali hampir mengeluarkannya lagi, namun sebisa mungkin kutahan. Aku harus sembuh!

Saat itu, selain hanya berada di rumah seharian, secara berkala aku bolak-balik ke puskesmas untuk mengambil obat dan konsultasi.

Berita baiknya batukku sedikit demi sedikit berkurang, bahkan diminggu kedua sudah sangat jarang. Aku bersyukur dan tetap rutin meminum obat.

Dari awal, putugas puskesmas memberi tahu ada beberapa efek samping dari obat TB. Bisa urin berwarna merah, gatal-gatal dan lainnya. Yang kualami, beberapa kali jantungku berdetak lebih cepat dan keras, sedikit sakit namun akan cepat menghilang jika aku mengatur nafas dengan baik. Perlahan dan teratur.

Memasuki hari ke enam belas, jantungku berdebar lebih keras, malah disertai sesak nafas. Begitu terasa seperti ketukan di dada. Aku menyadari ini terjadi jika aku terlalu lama berdiri atau berjalan, dan kalau sudah berdebar aku harus berposisi duduk, jongkok atau berbaring.

Mamake yang tambah khawatir mengajakku konsultasi dengan petugas puskesmas. Mengecewakan, petugas puskesmas malah tidak yakin, ini karena salah dosis atau apa.

Akhirnya mereka memutuskan untuk merujukku ke rumah sakit pemerintah terbesar di kotaku. Hari itu juga bersama mamake, kami mengantre di depan poli paru bersama pasien lainnya. Ya Allah, mayoritas dari mereka adalah lansia atau yang sudah berkepala tiga, aku paling muda di sini. Semuda ini aku harus merasakannya?

Tiba giliranku bertemu dokter spesialis Paru, dokter Aziz namanya. Hal pertama yang dilakukan adalah menjelaskan keluhan yang aku alami. Beliau kemudian menyuruhku untuk foto rontgen agar lebih jelasnya. Hari itu pun aku melakukan rontgen, dan keesokan harinya datang kembali untuk mengambil hasil serta mendapat penjelasan.

"Di lihat dari hasil rontgen ada infeksi paru, saya sarankan untuk di opname agar bisa menjalani pengobatan injeksi. Daerah paru-paru yang terkena infeksi sudah banyak, harus segera ditangani," jelas dokter Aziz pada Mamake, pada saat itu juga aku kembali menangis. Aku terlalu cengeng untuk ujian semacam ini.

"Astagfirullah," adalah kata pertama yang lahir dari bibir Mamake. Anak perempuan satu-satunya ini mungkin tak pernah terbayangkan akan begini. Menjadi pesakitan.


Malam itu juga aku dirawat inap. Punggung tanganku dipasang selang infus entah yang keberapa kali. Tidak sakit, hanya saja memilukan. Pesakitan yang sudah empat kali terbaring di rumah sakit yang sama. Maafkan aku, Mak, Abang.

Dari hasil rontgen tertulis penjelasan 'pneumonia lobaris' entah istilah apa ini. Aku kembali ikhtiar dalam pengobatan. Opname dengan serangkaian obat dan proses uap yang cukup menyakitkan. Kali pertama dalam hidupku, hidungku dipasang selang oksigen, tulang terasa ngilu untuk berjalan, dan rasa sesak yang lama.

Di hari ketiga, dokter menganalisis hasil tes darahku. Katanya jumlah hemoglobinku rendah, penyebab tulang dan sendiku ngilu saat digerakkan. Ini berarti fungsi hatiku (liver) tidak normal, kemudian aku disuruh menghentikan konsumsi obat TB yang sudah berjalan 23 hari. Beratnya adalah mungkin nanti aku harus mengulang dari nol lagi dalam pengobatan TB. Tapi aku tak mau komplikasi ini semakin parah. Aku tak mau hatiku lebih sakit.

Di titik ini, aku berpikir untuk berhenti kuliah. Aku tak bisa apa-apa. Aku menyerah!

Sepulangnya dari rawat inap, entah mengapa ada satu hal yang aku rindukan. Kebumen, Gombong, desa Kalitengah, lingkungan dimana aku tumbuh selama 10 tahun sepulang dari Palembang. Rindu pada sebuah rumah reyot yang menyimpan sebagian besar kenangan masa kecilku. Masa dimana aku bahagia dalam serba kekurangan ekonomi, tapi sehat dan lincah. Aku rindu masa lalu.

"Mak kalau disini aku gak mau, aku maunya di 'tambak baya' (nama kuburan di kampungku)." Kalimat itu begitu saja kuucapkan, yang kemudian baru kutahu membuat hati Mamake teriris. Maaf Mak, sungguh.

Mamake mengusahakan impianku pulang ke Kebumen terwujud. Entah bagaimana uang terkumpul, banyak saudara yang membantu, Mamake berpikir jika ini memang impian terakhir ia ingin memenuhinya. Tapi Mamake selalu mendoakan kesembuhanku.

16 Oktober 2017, aku berdua dengan Mamake akhirnya pulang ke Kebumen. Di sana aku tetap diberi pengobatan di salah satu rumah sakit swasta dengan bantuan BPJS. Keadaanku membaik dengan cepat, hampir kembali seperti semula. Ini karena pengobatan atau ketulusan Mamake memperjuangkanku beserta doanya, aku tak tahu. Atau mungkin karena keduanya.

Semester 1 di Universitas Terbuka hanya diisi dengan cerita pesakitan, tak ada belajar, tak ada membaca modul. Tapi kurasa aku melakukan hal besar dengan mengikuti ujian, menumpang di cabang UPBJJ Purwokerto. Mengusahakan dan diusahakan orang lain agar bisa ikut ujian, meski secara peraturan aku tak bisa ikut karena terlambat melapor.

Sebulan kemudian, kami kembali ke Pangkalan Bun. Saat melihat gurat usia di wajah Mamake yang begitu jelas, aku bertekad untuk melunasi impiannya ketika aku kembali sehat. Wanita kuatku, kusemogakan dalam setiap doaku, agar engkau diberi umur panjang juga kesehatan. Dukung aku untuk berjuang, untukmu.

Aku tahu hasil ujian nanti pasti sangat jelek, tapi tak apa, kuanggap ini sebuah investasi masa depan.
🐼

4 Januari 2018, nilai ujian itu akhirnya kutahui hasilnya, sesuai dengan nolnya belajarku. Tapi tak apa. Seorang introvert sepertiku perlu sesuatu yang membuatku jatuh, tentu bukan manusia, karena aku hanya dekat dengan sedikit orang dan Alhamdulillah mereka baik.

Nilai itu akan selalu kulihat setiap hari, dan berpikir seakan dia mengatakan 'segini saja nilaimu? Payah sekali!'.

Aku ingin nilai itu yang mematahkan hatiku. Karena patah hati adalah waktu yang tepat untuk bangkit. Meski yaa, untuk nilai sejelek itu aku harus membayar mahal secara finansial. Semoga berhasil disemester berikutnya!

Untuk penyakitku, terima kasih. Aku sadar, mungkin aku dipilih-Nya yang mampu menjadi orang pesakitan.

Jaga kesehatan kalian!
🐼
Maaf untuk terlalu panjang durasi tulisan ending part yang kutulis sambil menangis. Semoga bermanfaat, karena salah satu motivasiku menulis adalah pembaca tahu kesedihanku, agar ada hal yang bisa disyukuri. Masing-masing memiliki ujian dalam hidupnya, namun alangkah baiknya kita bersyukur karena tidak mengalami seperih ujian orang lain. Lewat ceritaku semoga kalian merasa tanpa mengalaminya. Aamiin.



Wassalamu'alaikum, 바이♥

Tidak ada komentar:

Posting Komentar