Rabu, 17 Januari 2018

Cycling Routine: Semak-Semak (Bagian 3/end)

Assalamu’alaikum, 할로!

Berbekal uang lima ribu rupiah, sore ini aku bisa mengkonsumsi (makan cocok gak sih) ice cream paddle pop dan dua bungkus permen cha-cha. Semuanya terasa manis, entah kenapa, hihi. Tapi aku tipe orang yang tidak terlalu suka rasa ‘manis’ yang berlebihan. Jadi, simpan saja kata-kata manismu, nah!

Atau barangkali reseptor lidahku bekerja tidak normal, sehingga yang bagi orang lain kurang manis sebaliknya denganku. Ternyata, kadar gula yang terlalu tinggi dalam darah/hiperglikemia itu tidak baik, lho. Karena, gula darah yang terlalu tinggi artinya tubuh tidak memiliki cukup insulin yang berfungsi menyebarkan gula dalam darah ke seluruh sel-sel tubuh agar bisa diproses menjadi energi, pun jika sebaliknya terlalu rendah juga tidak baik. Jadi, jaga pola makan dan asupan gulanya.

Harga ice cream paddle pop masih promo lho, dua ribu rupiah per pcs. Alhamdulillah, pengangguran sepertiku masih sanggup. membelinya. Terima kasih Walls!

Hari ini (Selasa 16/01/18) genap satu minggu aku rutin bersepeda! Yeay! Seperti hari minggu lalu, aku bersepeda di sore hari lagi, berhenti di jalan kecil di tengah kebun, membaca buku, dan menghabiskan bekal serta ditemani lagu Korea tentunya.

Ohya, aku itu tinggal di kota Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Tidak tahu? Tak apa, akan kuberi tahu. Kalau kalian suka atau sekali saja menonton berita di akhir tahun 2014, tentang jatuhnya pesawat AirAsia jurusan (kayak angkot aja) Singapura, Pangkalan Bun adalah kota yang perairannya dilaporkan oleh nelayan,  dekat dengan lokasi jatuhnya pesawat tersebut, di sini juga tempat evakuasi korban dilakukan. Pada saat itu, kota kami jadi mendunia sekaligus horor. Bayangkan, bolak-balik Ambulance lewat membawa jenazah korban ke RSUD!

1 Januari pun menjadi tahun baru yang berduka. Di bundaran Pancasila, saat malam pergantian tahun 2015, kebiasaan bakar duit (read-petasan/kembang api) diganti dengan bakar lilin, menyalakan lilin lebih tepatnya. Salah satu wujud turut berduka cita akan accident pesawat AirAsia.

Oke, itu sedikit tentang kotaku. Kalau kalian tahu berita itu, artinya kalian juga tahu sedikit tentang kotaku, kota kami. Aku ada terpikir akan menuliskan kotaku di masa depan.

Di daerah Kalimantan, selain masih banyak hutan dan orang dayak (suku asli Kalimantan), juga masih banyak rawa-rawa dan buaya yang seram. Tapi seumur hidup sih, baru sekali aku lihat buaya secara langsung, dia gak lucu, sama sekali gak lucu. Percaya deh!

Nah semenjak aku bersepeda rutin, mataku lebih akrab dengan semak dan tanaman liar di sepanjang jalan. Meski setiap hari aku melewatinya, karena dulu selalu naik motor, hal-hal itu luput dari pandangan dan perhatian mataku. Selain penemuanku akan buah Cimplukan yang lalu, aku menemukan buah yang lain.

Ini dia, namanya, hmm buah yang aku tidak tahu namanya (setelah mencari tahu, namanya buah cemot). Aku hanya bisa mendeskripsikan buah ini, maaf ya. Tanaman buah di atas tumbuh merambat/menjalar horizontal di atas tanah. Tumbuh di antara semak-semak, tapi cukup mencolok karena buahnya. Buahnya terbungkus bulatan seperti bulu halus berwarna hijau yang lebih muda itu, lho. Kalau kalian pegang, dia lengket di tangan dan aromanya itu gak enak, aku bilang sih langu (langu bahasa Indonesianya apa ya?). Untuk bentuk buah di dalamnya menurutku menyerupai labu, tapi versi mikroskopisnya, kira-kira 0,1% dari ukuran labu dewasa, hihi.

Seperti buah pada umumnya yang masih mentah, buah ini juga berwarna hijau dan berubah kuning jika sudah siap santap. Rasanya manis dan asam, dalamnya terdiri dari biji kecil dan daging buah berwarna putih, seperti markisa. Ya, seperti markisa rasanya juga hampir mirip. Sayangnya belum ada yang matang, jadi aku tak bisa memperlihatkan visual dari pemaparan ini pada kalian.

Buah selanjutnya adalah buah Karamunting namanya. Tanaman dalam foto di atas yang memiliki bunga berwarna ungu. Sejak pertama kali aku pindah ke Kalimantan, saat pulang sekolah aku sering lihat tanaman ini di pinggir jalan yang masih terdiri dari semak-semak, bukan warung makan seperti sekarang. Dulu aku tak tahu ternyata tanaman ini berbuah dan bisa dimakan buahnya (boleh/tidak berbahaya, karena pada dasarnya buah beracunpun bisa dimakan kalau kita mau dan asalkan punya sistem pencernaan, hihi).

Buahnya itu berada tepat di bawah bunga, kulitnya juga ungu tapi lebih gelap dari ungu bunga. Bentuknya sendiri menurutku mirip seperti Delima, bukan aku tapi buah delima ya. Ada bentuk semacam mahkota, tapi bedanya buah delima berbentuk bulat, kalau karamunting agak memanjang. Buah ini juga kecil, mungkin 0,1% juga dari buah delima jumbo. Ini hanya perkiraan saja ya. Rasanya juga berbeda, walaupun bentuk dan isinya berupa biji-bijian seperti buah delima, buah ini rasanya justru seperti jambu biji di lidahku. Kalau di lidah kalian rasanya berbeda, sudah pasti lidahku yang aneh, seperti pemiliknya.

Mendengar cerita temanku yang asli sini, tetangganya orang Sunda salah paham dengan nama buah ini. Yang benar adalah karamunting, sedangkan orang Sunda itu mendengarnya ‘Kera Bunting’, kera hamil? Buah bagi kera hamil? Bahasa yang kurang familier di database pendengaran maupun otak, seringkali membuat kita salah tangkap. Seperti, jomblo yang menangkap pengertian dari malam minggu adalah hari waktunya berdoa meminta turun hujan. Haha. Oh, di Jawa Barat buah ini dalam bahasa Sunda disebut Harendong Sabrang.

Terakhir, tentang buah nanasi (nasi-nasi), sayangnya aku tak ada foto buah ini. Iyap, namanya demikian karena bentuknya yang mirip nasi dan berwarna putih. Buahnya tumbuh bergerombol banyak, seperti onogiri yang ditempel pada tumbuhan liar, bayangkan saja seperti itu. Aku  baru satu kali memakan buah ini, sudah lama sekali waktu aku masih SMK kelas X atau XI. Rasa buahnya seperti jambu air, menurut perbandingan rasa lidahku tentunya (Edit version: ternyata buah ini masih satu keluarga dengan jambu air, lidahku benar analisisku tepat! Kemarin aku riset dengan nama nanasi munculnya nanas, kukira belum ada yang menulisnya). Buah ini jarang kutemui, baru di satu tempat saja. Hmm, aku merindukannya (ingin memakannya lagi).

Aku tak tahu, ketiga buah ini tumbuh di daerah mana saja, tapi sebelas tahun aku hidup di Jawa Tengah, belum pernah menemukan apa lagi makan ketiga buah ini.

Secara umum buah dan akar karamunting dapat mencegah diare, disentri basiler, radang dinding pembulu darah, meningkatkan trombosit, penetral racun, hepatitis, dan gangguan pencernaan. Sedangkan manfaat buah cemot diantaranya, baik untuk menjaga kesehatan gigi dan gusi juga tulang, mengontrol tekanan darah, mencegah kanker, serta mencegah anemia.

Manfaat dan kandungan gizi dua buah itu Subhanallah, segala sesuatu yang diciptakan Allah pasti ada manfaatnya di muka bumi ini. Termasuk mereka, buah-buahan liar. Sama halnya seperti Cimplukan, mereka yang awalnya liar dan terabaikan, sekarang kariernya/? naik sebagai buah bermanfaat dalam dunia kesehatan.

Bagi kalian yang belum tahu, apa manfaat kalian hidup, mulai cari tahu ya. Aku juga masih merenungkan, untuk apa aku hidup? Like a mystery.

Semoga kita semua selalu diberi nikmat sehat oleh-Nya, aamiin. Agar ketika kita telah menemukan manfaat dari diri kita, selanjutnya manfaat itu bisa diwujudkan dalam tindakan bukan sekedar mengendap dalam pikiran. Semangat!


Cycling Routine end!
Cycling Routine: Cimplukan🔙Bagian 1
Cycling Routine: Warung Kopi 🔙Bagian 2
Wassalamu’alaikum, 안녕~♥ 

3 komentar: